Secara umum amalan hati penting dan ditekankan daripada amalan lahiriyah. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mengatakan: "Bahwasanya ia merupakan pokok keimanan dan landasan utama agama, seperti mencintai Allah SWT dan Rasulnya.
Bertawakal kepada Allah SWT, ikhlas dalam menjalankan agama semata-mata karena Allah SWT, bersyukur kepadanya, bersabar atas keputusan atau hukumnyanya, takut dan berharap kepadanya, dan ini semua menurut kesepekatan para ulama adalah perkara wajib (Al Fatawa 10/5, juga 20/70)
Imam Ibnu Qayyim juga pernah berkata: "Amalan hati merupakan hal yang pokok dan utama, sedangkan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat ibarat ruh, dan gerakan anggota badan adalah jasadnya. Jika ruh itu terlepas maka matilah jasad. Oleh karena itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan hati lebih penting daripada memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerakan anggota badan ( Badai 'ul Fawaid 3/22).
Lebih jauh lagi dalam kitab yang sama beliau menegaskan bahwa perbuatan yang dilakukan anggota badan tidak ada manfaatnya tanpa amalan hati, dan sesungguhnya amalan hati lebih fardhu (lebih wajib) bagi seorang hamba daripada amalan anggota badan.
Kedudukan Ikhlas
Ikhlas merupakan hakikat dari agama dan kunci dakwah para rasul saw. Allah SWT berfirmanya, Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agamayang lurus ( QS. 98:5)
Juga firmanya yang lain. artinya : "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya."(QS.67:2)
Berkat Al Fudhail (Ibnu Iyadl,peni), Makna dari kata ahsanu'amala (lebih baik amalnya) adalah Akhlasuhu wa Ashwabuhu, yang lebih ikhlas dan lebih benar (sesuai tuntunan).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SWA bersabda, Allah SWT artinya : Aku adalah Tuhan yang tidak membutuhkan persekutuan,barang siapa melakukan suatu perbuatan yang di dalamnya menyekutukan Aku dengan selainku maka aku tinggalkan dia dan juga sekutunya (HR.Muslim). Oleh karenanya suatu ketaatan apapun bentuknya jika dilakukan dengan tidak ikhlas dan jujur terhadap Allah, maka amalan itu tidak ada nilainya dan tidak berpahala, bahkan pelakunya akan menghadapi ancaman Allah yang sangat besar.
Sebagaimana dalam hadits, bahwa manusia pertama yang akan diadili pada hari kiamat nanti adalah orang yang mati syahid, namun niatnya dalam berperang adalah agar disebut pemberani. Orang kedua yang diadili adalah orang yang belajar dan mengajarkan ilmu serta mempelajari Al-Qur'an, namun artinya supaya disebut sebagai qori'atau alim.
Dan orang ketiga adalah orang yang diberi keluasan rizki dan harta lalu ia berinfak dengan harta tersebut akan tetapi tujuannya agar disebut sebagai orang yang dermawan. Maka ketiga orang ini bernasib sama, yakni dimasukan ke dalam neraka ( na'udzu billah min dzalik).
Pengertian ikhlas
Ada beberapa pengertian ikhlas, diantaranya:
1. Semata-mata bertujuan karena Allah ketika melakukan ketaatan.
2. Ada yang mengatakan ikhlas ialah membersihkan amalan dari ingin mencari perhatian manusia.
3. Sebagian lagi ada yang mendefinisikan bahwa orang yang ikhlas ialah orang yang tidak memperdulikan meskipun seluruh penghormatan dan penghargaan hilang dari dirinya dan berpindah kepada orang lain, karena ingin memperbaiki hatinya hanya untuk Allah semata dan ia tidak senang jikalau amalan yang ia lakukan diperhatikan oleh orang, walaupun perbuatan itu sepele.
Ditanya Shal bin Abdullah At-Tusturi, apa yang paling berat bagi nafsu? Ia menjawab : Ikhlas, karena dengan demikian nafsu tidak memiliki tempat dan bagian lagi." Berkata Sufyan Ats-Tsauri: "Tidak ada yang paling berat untuk ku obati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah."
Perusak-perusak Keikhlasan
Ada beberapa hal yang bisa merusak keikhlasan yaitu:
1. Riya' adalah memperlihatkan suatu bentuk ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu orang-orang memujinya.
2. Sum'ah adalah beramal dengan tujuan untuk didengar oleh orang lain (mencari popularitas)
3. Ujub, adalah masih termasuk kategori riya hanya saja Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan keduanya dengan mengatakan bahwa riya' masuk di dalam bab menyetukan Allah dengan mahluk, sedang ujub masuk dalam bab menyekutukan Allah dengan diri-sendiri (Al Fatawaa,10/277)
Disamping itu ada bentuk detail dari perbuatan riya yang sangat tersembunyi, atau disebut dengan riya khafiy yaitu :
1. Seseorang sudah diam-diam melakukan yang ia tidak ingin menampakkanya dan tidak suka jika diketahui oleh banyak orang, akan tetapi bersamaan dengan itu ia menyukai kalau orang lain mendahului salam terhadapnya, menyambutnya dengan ceria dan penuh hormat, memujinya, segera memenuhi keinginannya, diperlukan lain dalam jual beli (diistimewakan), dan diberi keluasaan dalam tempat duduk.
Jika itu semua tidak ia dapatkan ia merasa ada beban yang mengganjal dalam hatinya, seolah-olah dengan ketaatan yang ia sembunyikan itu ia mengharapkan agar orang selalu menghormatinya.
2. Menajdikan ikhlas sebagai wasilah (sarana0 bukan maksud dan tujuan . Syaikhul Islam telah memperingatkan dari hal yang tersembunyi ini, beliau berkata: Dikisahkan bahwa Abu Hamid Al Ghazali ketika sampai keapadanya, bahwa barangsiapa yang berbuat ikhlas semata-mata karena Allah selama 40 hari maka akan memancar hikmah dalam hati orang tersebut melalu lisannya (ucapan).
Berkata Abu Hamid:" Maka aku berbuat ikhlas selama empat puluh hari, namun tidak memancar apa-apa dariku, lalu kusampaikan hal ini kepada sebagian ilmu, maka ia berkata: "sesungguhnya kamu ikhlas hanya untuk mendapatkan hikmah, dan ikhlasmu itu bukan karena Allah semata.
Kemudian Ibn Taymiyah berkata: "Hal ini dikarenakan manusia terkadang ingin disebut ahli ilmu dan hikmah, dihormati dan dipuji manusia, dan lain-lain, sementara ia tahu bahwa untuk mendapatkan semua itu harus dengan cara ikhlas karena Allah, Jika ia menginginkan tujuan pribadi tapi dengan cara berbuat ikhlas karena Allah, maka terjadilah dua hal yang sling bertentangan. Dengan kata lain, Allah di sini hanya dijadikan sebagai sarana saja, sedang tujuannya adalah selain Allah.
Yaitu apa yang diisyaratkan Ibnu Rajab beliau berkata: "Ada satu hal yang sangat tersembunyi, yaitu terkadang seseorang mencela dan menjelek-jelekan dirinya dihadapan orang lain dengan tujuan agar orang tersebut menganggapnya sebagai orang yang tawadhu dan meerendah, sehingga dengan itu orang justru mengangkat dan memujinya, Ini merupakan pintu riya yang sangat tersembunyi yang selalu diperingatkan oleh para salafus shaleh.
Cara-cara Mengobati Riya
1. Harus menyadari sepenuhnya, bahwa kita manusia ini semata-mata adalah hamba. Dan tugas seorang hamba adalah mengabdi dengan sepenuh hati, dengan mengharap kucuran belas kasih dan keridhaannya semata.
2. Menyaksikan pemberian Allah, keutamaan dan taufiknya, sehingga segala sesuatunya diukur dengan kehendak Allah bukan kemauan diri sendiri.
3. Selalu melihat aib dan kekurangan diri kita, merenungi seberapa banyak bagian dari amal yang telah kita berikan untuk hawa nafsu dan syaetan. Karena ketiak orang tidak mau melakukan suatu amal, atau melakukanya namun sangat minim maka berarti telah memberikan bagian (yang sebenarnya untuk Allah), kepada hawa nafsu atau syetan
4. Memperingati diri dengan perintah-perintah Allah yang bisa memperbaiki hati.
5. Takut akan murka Allah, ketika Dia melihat hati kita selalu dalam keadaan berbuat riya
6. Memperbanyak ibadah-ibadah yang tersembunyi seperti qiyamul lail, shadaqah sirri, menangis karena Allah dikala menyandari dan sebagainya.
7. Membuktikan pengagungan kita kepada Allah,dengan merealisasikan tauhid dan mengamalkannya.
8. Mengingatkan riya, pintu-pintu masuk dan kesamarannya, sehingga bisa terbebas darinya.
9. Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah dari perbuatan riya dengan membaca doa : Ya allah aku berlindung kepadamu dari berbuat syirik padahal aku mengetahui dan aku mohon ampun atas apa-apa yang tidak ku ketahui..
Wallahu a'alam bis shawab.....

No comments:
Post a Comment