Thursday, July 21, 2016

7 Indikator Kebahagian Dunia


Hasil gambar untuk islam itu indahIbnu Abbas ra. Adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagian dunia. 

Jawab Ibnu Abbas Ada 7 (Tujuh) Indikator kebahagian dunia, yaitu:

1. Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur

Memilki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah) sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatalh cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. 

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". 

Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadanya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap bandel dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. 

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

2. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. 

Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. 

Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh. 

3. Al Auladun abrar, Yaitu anak yang sholeh

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : Kenapa pundakmu itu ? Jawab anak muda itu : Ya Rasulullah, saya dari yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. 

Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat,ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya lalu anak muda itu bertanya : Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ? Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan :"Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang sholeh, anak yang berbakti,tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olemu".

Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa ama ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh. 

4. Albiatu sholihah yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. 

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. 

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. 

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh. 

5. Al malul halal, atau harta yang halal

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sodaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus, kata Nabi SAW, Namun sayang makanan,minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan"

Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh,sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu teliti menjaga kehalaan hartanya. 

6. Tafakuh fi din atau semangat untuk memahami agama

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaanya. 

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasulnya. Cinta inila yang akan memberi cahaya bagi hatinya. 

Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya, hati yang hidup adalah hati yang selalu di penuhi cahaya nikmat islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama islam. 

7. Umur yang baroqah

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya di isi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagian dunia semata, maka hari tuanya akan di isi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya.

Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaiman caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. 

Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan sang penciptanya. Hari tuanya di isi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih.

Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahaan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat hidup orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang baroqah.

Demikian pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. 7 Indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan sekhusyu mungkin membaca doa sapu jagat yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SWA. Dimana baris pertama doa tersebut Robbanaa aatina fid dunyaa hasanaw" ( ya artinya Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia).

Mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra. yaitu hati yang selalu bersyukur, pasangang hidup yang sholeh, anak yang sholeh, teman-teman atau lingkungan yang sholeh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agam , dan umur yang baroqah. 

sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jaga tersebut yaitu Wa fil aakhirati hasanaw ( ya artinya dan juga kebahagiaan akhirat) untuk memperoleh hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal sholeh kita, tetapi karena rahmat Allah. 

Amal sholeh yang kita lakukan sepanjang hidup kita ( walau setiap hari puada dan sholat malam ) tidak cukup untuk mendapatkan masuk surga. Amal sholeh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. 

Kata Nabi SAW, Amal sholeh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga . lalu para sahabat bertanya :"Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ? Jawab Rasulullah SAW : Amal sholeh saya pun juga tidak cukup. Lalu para sahabat kembali bertanya " Kalau begitu dengan apa kita masuk surga ? Nabi SAW kembali menjawab ; kita dapat masuk surga hanya karean rahmat dan kebaikan Allah semata. 

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah ( Insya Allah, Amiin ). 

No comments:

Post a Comment

Anda Terkena Diabetes? Ini Solusinya,,,Klik!